Rabu, 28 September 2016

Jenis-jenis Model Pembelajaran

Metode Pemecahan Masalah


Apakah sistem pembelajaran yang diselenggarakan dengan konsentrasi pada latihan pengerjaan soal yang semakin menguat diimbangi dengan pengembangan ketrampilan siswa bertanya? Pertanyaan ini muncul setelah saya melaksanakan tugas mensupervisi  guru mengajar dalam kelas dan mendapatkan kenyataan sulit mendapatkan bahwa guru mengembangkan keterampilan siswa bertanya.
Dalam tiga minggu terakhir, sebelum para siswa SMA saya masuk kelas untuk mendampingi guru mengajar. Dalam semua kesempatan saya menantikan pernyataan seperti ” Informasi baru apa yang ingin kalian ketahui dalam proses belajar hari ini?” atau ” masalah apa yang ingin kalian pecahkan?’ atau  ‘ kesulitan apa yang kalian alami dalam mempelajari topik bahasan ini, dapatkah kamu rumuskan dalam bentuk pertanyaan?’.
Stategi pembelajaran yang guru gunakan pada umumnya menggunakan model pemecahan masalah dengan soal yang telah guru siapkan. Strategi ini tentu saja tidak buruk, namun kreativitas belajar siswa tidak cukup dengan meningkatkan keterampilan siswa menjawab. Ilmu pengetahuan datang dari  cara berpikir kreatif melalui proses perumusan pertanyaan.
Keterampilan bertanya merupakan fondasi bagi tumbuhnya keterampilan memecahkan masalah. Oleh karena itu merumuskan masalah dan mecahkan masalah adalah karakter umum dari struktur kognitif manusaia. Merumuskan dan memcahkan masalah merupakan proses mental yang meliputi tiga aspek besar yaitu menemukan, merumuskan, menerapkkan solusi masalah. Pemecahana masalah merupakan fungsi intelektual paling kompleks dari semua fungsi intelektual tinggi manusia atau proses kognitif yang memerlukan kontrol dan keterampilan fundamental.

Merumuskan Masalah
Yang penting dalam mengasah keterampilan berpikir memecahkan masalah adalah siswa dapat merumuskan masalah. Masalah pada umumnya dapat dikelompokkan dalam tiga jenis yaitu adanya kondisi yang muncul tiba-tiba sehingga muncul keadaan yang tidak diharapkan. Masalah seperti dikategorikan sebagai krisis. Misalnya, tiba-tiba terjadi sesuatu peristiwa yang tidak diduga. Dari kondisi ini muncul pernyataan masalah, seperti:
o   Apa….?
o   Siapa ………?
o   Di mana …………….?
o   Kapan….?
o   Mengapa……?
o   Bagaimana…….?
Klasifikasi masalah yang kedua adalah antara kondisi nyata dengan kondisi yang diharapkan berbeda.  Dari sini mucul masalah yang dapat dinyatakan dalam bentuk pernyataan atau pertanyaan. Misalnya:
o   Kondisi ……. belum sesuai dengan ….
o   Mengapa ……..belum sesuai dengan……?
o   Apa yang menyebabkan ……tidak sesuai dengan…….?
o   Bagaimana membuat ……..agar……?
Masalah berikutnya yang manusia hadapi adalah ketidaktahuan dan selalu ingin tahu.
Masalah  dapat pula dinyatakan dengan contoh berikut:
o   Mengapa ….?
o   Bagaimana …….bisa jadi ……..?
o   Apa yang menyebabkan …..?
o   Apa yang anda ketahui ….?
o   Apa yang ingin anda ketahui?..?
Dalam merumuskan masalah ilmiah memiliki karakter yang sedikit berbeda sekali pun dasarnya adalah kemampuan bertanya. Cara yang paling mudah adalah mengubah tujuan menjadi pertanyaan. Contoh;
Tujuan;
o   Siswa dapat merumuskan pertanyaan yang meliputi W’s +H.
o   Siswa dapat menerapkan metode berpikir memecahkan masalah.
Pernyataan tersebut dapat diubah menjadi
o   Bagaimana meningkatkan keterampilan siswa merumuskan pertanyaan?
o   Bagaimana meningkatkan keterampilan siswa menerapkan metode berpikir memecahkan masalah?
Langkah-langkah penerapan Metode Pemecahan Masalah
Kompleksitas  pemecahan masalah bergantung pada pada jenis masalah dan kerumitan masalah yang akan dipecahkan. Semakin luas permasalahan yang dibahas semakin banyak informasi yang diperlukan. Semakin banyak waktu yang siswa gunakan. Oleh karena itu, batasilah masalah sesuai dengan informasi yang mungkin dapat siswa peroleh selama pelaksanaan belajar dan waktu yang tersedia.
Langkah pemecahan masalah terdiri atas enam langkah berikut:
o   Mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah.
o   Menganalisis masalah.
o   Merumuskan alternatif solusi pemecahan masalah.
o   Menganalisis solusi atau paling potensial.
o   Memilih Solusi terbaik dan menyusun rencana tindakan
o   Mengevaluasi Solusi.
Rangkaian proses ini dapat menjadi panduan guru dalam mentukan kegiatan siswa yang dapat dijabarkan lebih lanjut dalam langkah-langkah opersional di bawah ini.

1.    Mengidentifikasi dan mendefinisikan  Masalah 
Proses memecahkan masalah sebaiknya diawali dengan mendefinisikan masalah yang ingin Anda pecahkan. Anda perlu memutuskan apa yang ingin Anda capai dan menuliskannya. Langkah menuliskan masalah  memaksa Anda untuk berpikir tentang apa yang sebenarnya Anda juga menuliskan cara untuk memecahkan merumuskan apa sesungguhnya yang ingin Anda capai.

2.    Menganalisis Masalah
Langkah berikutnya dalam proses menganalisis,  di mana Anda sesungguhnya sekarang? Apa yang ingin Anda capai? Apa sesungguhnya yang menyebabkan Anda punya masalah? Memahami “dari mana masalah itu datang?” Apakah masalah itu relevan dengan perkembangan kehidupan  saat ini?. Apakah Anda memiliki perangkat kriteria yang digunakan untuk mengevaluasi solusi?  atau Tahukah Anda  bahwa ide itu dapat dikerjakan? Apakah Anda dapat memprediksi waktu yang dihabiskan untuk memecahkan masalah itu? Berapa lama?.

3.    Merumuskan Alternatif Solusi Pemecahan Masalah
Bila Anda telah menemukan masalah yang sebenarnya ingin Anda pecahkan, maka langkah selanjutnya pikirkan apa yang harus “ Anda lakukan?” Berpa banyak kemungkinannya?   Pada tahap ini Anda harus berkonsentrasi untuk menghasilkan banyak solusi. Semakin banyak pilihan semakin banyak informasi yang Anda dapatkan.  Di sini harus memperlakukan setiap ide untuk dipertimbangkan.
4.    Menganalisis Solusi yang Paling Potensial
Bagian dari proses pemecahan masalah adalah mengamati, menyelidiki, mempertimbangkan  berbagai faktor tentang tiap berbagai solusi pilihan yang potensial. Mengapa Anda pilih solusi itu? Atas dasar pemikiran apa? Apakah kekuatan argumentasi yang digunakan untuk menentukan solusi potensial itu? Apakah informasi yang diganakan sebagai dasar menentukan alternatif solusi itu valid? Tuliskan beberapa alternatif yang paling potensial dan tuliskan argumentasi pendukungnya.

5.    Memilih Solusi terbaik dan menyusun rencana tindakan
Ini adalah bagian dari proses pemecahan masalah yang paling penting, memutuskan solusi terbaik.  Anda telah melihat alterntif yang dipilih  secara cermat dan dengan  penilaian yang hati-hati.  Tulislah, YA pada gagasan yang Anda tetapkan. Ingat selain mempertimbangkan secara rasional belajarlah menggunakan intuisi. Pengalaman hidup  juga akan membantu Anda menilai memilih alternatif solusil. Laksanakan solusi itu dengan merumuskan recana kegiatan selanjutnya

6.    Melaksanakan kegiatan atau menerapkan solusi
Bagian dari proses yang tidak kalah penting adalah menuliskan apa yang akan Anda lakukan selanjutnya. Sekarang bahwa Anda memiliki solusi yang potensial, kini kerjakan apa yang seharusnya Anda kerjakan. Pastikan bahwa masalah satu masalah selesai,

7.     Mengevaluasi Solusi
Anda perlu melihat kembali apa sesungguhnya tujuan Anda? Atau, apakah sesungguhnya yang ingin anda capai? Apakah tujuan tercapai? Jika belum,  Apa sesungguhnya penghambatnya?  Apakah Anda menentukan berbagai langkah untuk mengatasinya? Silakan selesaikan masalah berikutnya.
Semua langkah dalam peningkatan keterampilan bertanya dikembangkan secara bertahap dengan tingkat kesulitan yang semakin tinggi disesuaikan dengan kapasitas belajar siswa.



Aplikasi Blended Untuk Peningkatan Keterampilan Berpikir Ilmiah Siswa

Model aplikasi metode blended dengan cara mengintegrasikan berbagai metode pembelajaran tradisional dan metode pembelajaran berbasis komputer dan internet dapat meningkatkan kolaborasi guru-siswa di dalam maupun di luar kelas. Dengan meningkatnya penggunaan internet melalui hand phone (seperti: SMS, Black Bary, e mail) oleh para siswa dapat guru manfaatkan untuk melalukan kerja sama kapan pun dan dari mana pun.
Alangkah lebih baik jika guru dapat memfasilitasi siswa memanfaatkan sumber belajar yang telah guru sediakan dalam jejaring internet di samping menggunakan sumber cetakan dalam bentuk buku atau sumber yang lain. Dengan tersedia banyak sumber belajar siswa siswa dapat belajar kapan pun dan di mana pun sehingga waktu belajar siswa menjadi lebih banyak. Konsultasi dan kerja sama guru-siswa  dapat meningkat dengan bantuan teknologi.
Pada tulisan ini  GP menyajikan model penggunaan metode blended untuk meningkatkan keterampilan siswa berpikir ilmiah. Yang ditekankan benar dalam proses pembelajaran adalah menggunakan cara berpikir ilmiah. Model berpikir ilmilah dapat menggunakan berbagai contoh penugasan  untuk memecahkan masalah para pemula seperti:
o    Bagaimana tanaman tumbuh?
Diagram di bawah ini menggambarkan relasi antara metode tradisional dan  metode belajar moderen berbasis komputer.
Gambar di atas menujukkan  hubungan antara kegiatan tatap muka dengan penugasan atau proyek belajar mandiri yang terintegrasi dalam model pembelajaran tradisional dengan pembelajaran berbasis internet. Yang dikembangkan adalah keterampilan berpikir ilmiah siswa yang ditunjang dengan keterampilan menggunakan teknologi informasi, menghimpun data, mengolah data, dan menyajikan data secara menarik dan variatif yang dilandasi dengan data yang benar;  mengembangkan kapasitas individu melalui kerja sama dalam kelompok;  mengembangkan keterampilan memimpin; dan karakter tanggung jawab, selalu ingin tahu, objektif, dan berbudaya mutu.
Dalam kegiatan pembelajaran ini guru dapat menggunakan strategi dengan  mengintegrasikan berbagai pendekatan, metode, dan tentu saja siklus pembelajaran eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi (EEK).
Pembelajaran difokuskan pada pengembangan  keterampilan  berpikir ilmiah. Materi pelajaran dapat disesuaikan dengan materi yang relevan pada tiap mata pelajaran. Siklus belajar meliputi siklus EEK. Langkah awal siswa mengeksplorasi informasi dari berbagai sumber dalam merumuskan masalah, menentukan tujuan, dan merumuskan hipotesis, serta mengembangkan kerangka pemikiran sebagai dasar mengembangkan berpikir ilmiah.
Dalam kegiatan tatap muka guru mengintegrasikan metode diskusi, observasi, kolaborasi, dan presentasi. Pelaksanaan pembelajaran didukung dengan berbagai informasi yang diperoleh dari buku sumber kepustakaan serta informasi dari internet. Pada kegiatan nontatap muka, atau tugas terstruktur guru mengintegrasikan kerja sama menggunakan blog, email, SMS.
Diagram model  kegiatan belajar siswa dapat dikembangkan seperti berikut:
Pada tahap selanjutnya siswa  mengembangkan kemandirian belajar dengan melaksanakan tugas mandiri (proyek). Namun demikian, komunikasi guru dengan siswa selama mengerjakan tugas di luar kelas guru tetap menjalin komunikasi dengan menggunakan jejaring teknologi. Tugas siswa di luar kelas dilandasi dengan sistem kontrak target belajar, mengembangkan potensi individu melalui kerja sama kelompok.
Waktu pelaksanaan tugas dibatasi dengan ditentukan lamanya. Hasil pengumpulan, pengolahan, dan penafsiran data mereka susun dalam bentuk kerangka laporan yang dikembangkan dengan menggunakan model mind maping. Laporan dirumuskan kelompok yang disajikan dalam bentuk power point.
Selanjutnya para siswa menyajikan hasil elaborasi data dan fakta yang mereka peroleh dari hasil penelitian selanjutnya mereka sajikan sebagai bahan seminar dalam kelas.
Tujuan pembelajaran bertujuan khusus untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam berpikir ilmiah yang meliputi beberapa indikator di bawah ini.
1.        Merumuskan masalah
2.        Merumuskan hipotesis
3.        Menguji hipotesis
4.        Mengolah data
5.        Menafsirkan data
6.        Menarik kesimpulan
7.        Melaporkan hasil penelitian.
Diagram berikut memperlihatkan skenario pembelajaran:
Skenario pembelajaran dilaksanakan dalam  4 jam pelajaran tatap muka dan tugas terstruktur di luar kelas.  Skenario pembelajaran dikembangkan dalam tiga tahap sebagaimana digambarkan dalam gambar di bawah ini :
Secara umum pembelajaran ini dikembangkan untuk membangkitkan daya kompetisi dan kekompakan kelompok. Oleh karena itu dalam pelaksanaan pembelajaran kelas dibagi dalam beberapa kelompok kecil, maksimal 5 orang.
Guru dalam pelaksanaan pembelajaran menerapkan sistem time token ekonomi. Dengan menggunakan pendekatan ini  diharapkan siswa mengembangkan daya kompetisi untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Setiap kekompok yang memenuhi prilaku belajar dan hasil belajar yang diharapkan dihargai oleh guru dalam bentuk tanda bintang. Untuk keperluan menghimpun tanda bintang yang diperolah, tiap kelompok menyediakan kertas tempat menempel tanda penghargaan yang diperolehnya. Kelompok yang berhasil mendapatkan bintang yang terbanyak mendapat hadiah khusus misalnya “permen” atau hadiah lain yang memiliki nilai ekonomi.
Proses pembelajaran dikembangkan lebih lanjut dalam beberapa langkah yang dapat diuraikan lebih lanjut seperti di bawah ini.
Pertemuan Tahap ke-1 : tatap muka (Eksplorasi)
Model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Introduction/PBI)
1.        Guru menyampaikan Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, dan Indikator hasil belajar.
2.        Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa agar kompetitif dalam meraih prestasi belajar terbaik secara berkelompok.
3.        Guru menghimpun informasi yang sudah siswa kuasai tentang SK /KD yang akan siswa pelajari sebelum proses pembelajaran berlanjut.
4.        Guru menetapkan target hasil belajar yang akan dilakukan dalam 3 tahap yaitu kegiatan tatap muka, kegiatan mandiri terstruktur, dan kegiatan tatap muka untuk mempresentasikan dan membahas hasil penelitian.
5.        Guru memfasilitasi siswa untuk membentuk kelompok kecil, maksimal 5 siswa.
6.        Guru memotivasi siswa untuk melakukan aktivitas merumuskan masalah penelitian,  tujuan , hipotesis,  kerangka pemikiran, dan merumuskan informasi yang siswa perlukan dengan mengeksplorasi dari buku teks pegangan siswa, buku di perpustakaan, mengeksplorasi informasi dari internet.
7.        Siswa mengeksplorasi  berbagai contoh penelitian sederhana dari berbagai sumber dengan menggunakan kata kunci sciene for kids.
8.        Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
9.        Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
10.    Guru membantu siswa dalam merencanakan bentuk penyajian kerangka pikir, kerangka laporan, dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka menyiapkan pengerjaan tugas mandiri dengan teman-temannya


Tahap ke-2 :  tugas terstruktur (Elaborasi)
Pelaksanaan kegiatan belajar mandiri menggunakan model student teams – achievement division (STAD)
1.        Siswa bekerja dalam  kelompok kelompok yang anggotanya 5 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, kemampuan menyediakan sumber informasi, dll)
2.        Siswa mengerjakan tugas susuai dengan yang direncanakan, mamastikan bahwa semua anggota kelompok aktif sesuai dengan peran yang mereka rancang, dan melaksanakan tugas sesuai dengan prosedur yang telah mereka tetapkan.
3.        Siswa menyampaikan infomasi kepada guru melalui jejaring internet, berkonsultasi, dan meminta bantuan guru jika siswa perlukan.
4.        Guru mengontrol perkembangan kegiatan seluruh siswa,  mengarahkan, dan memberi motivasi melalui hubungan interaktif berbasis jejaring internet.
5.        Siswa mengumpulkan fakta, menghimpun , mengolah, dan penafsiran data serta  menarik kesimpulan sebagai hasil penelitian.
6.        Siswa merumuskan hasil penelitian daalam bentuk power point sebagai bahan penyajian dalam kelas.

Tahap ke-3: tatap muka  (Konfirmasi)
Pelaksanaan pembelajaran menggunakan model Demonstrasi atau Presentasi
1.        Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan target belajar yang harus siswa capai.
2.        Guru menyampaikan informasi tentang hal-hal yang menjadi bahan penilaian belajar dan mendorong siswa untuk berkompetisi memperoleh penghargaan tertinggi karena menunjukkan berbagai prestasi yang baik.
3.        Guru memfasilitasi siswa menentukan skenario pelaksanaan penyajian hasil karya siswa sehingga  tugas  kelompok penyaji dan kelompok pemerhati menjadi jelas.
4.        Siswa  menyajikan hasil penelitian dalam bentuk power point serta menggunakan berbagai sumber informasi berbasis  jejaring internet.
5.        Siswa membahas materi yang didemonstrasikan tugas sebagai hasil kegiatan kelompok.
6.        Guru menilai aktivitas belajar siswa dan karya yang siswa sajikan.
7.        Seluruh siswa memperhatikan demontrasi dan menganalisis hasil kerjanya untuk disempurnakan.
8.        Siswa melaporkan hasil tugas.
9.        Guru menyampiaikan penghargaan kepada kelompok terbaik.
10.    Siswa difasilitasi guru menyajikan hasil karyanya dalam jejaring internet.

Demikian rangkaian kegiatan yang dapat para guru coba. Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar